Memasuki masa menopause, wanita akan mengalami perubahan di vaginanya (Ghiboo.com, 2013).
Atrofi vagina menjadi mimpi buruk bagi wanita. Sayangnya, masih banyak wanita yang tak tahu mengenai masalah serius ini.
"Atrofi vagina, penipisan dan peradangan dinding vagina yang
biasanya terjadi setelah menopause, karena penurunan tingkat estrogen
yang diproduksi oleh indung telur," jelas Dr. Sudha Marwah, ahli
kandungan di Spectrum Healthcare, Mumbai.
Estrogen memainkan peran penting dalam menjaga kesehatan vagina
dengan mempertahankan struktur dan fungsi dinding vagina. Hormon wanita
ini juga membantu mempertahankan keelastisitasan jaringan di sekitar
vagina dan membantu menghasilkan cairan vagina. Ketika tingkat estrogen turun, lapisan vagina sehat berubah sehingga membuat vagina menjadi lebih kecil, kurang elastis dan lebih kering. Intinya, vagina terlihat berbeda dengan kondisi sebelum menopause.
Perubahan ini tentu saja menimbulkan ketidaknyamanan. Seperti, nyeri ketika melakukan hubungan seks, rasa gatal hingga masalah saat buang air kecil.
Untuk mengatasinya, wanita bisa melakukan terapi penggantian hormon (HRT). Jika tidak, wanita boleh menggunakan krim atau gel estrogen yang sebelumnya sudah diresepkan dokter.
Comments
Post a Comment